Rabu, November 03, 2010

"Menuju Hari Keuangan ke-64: 30 Oktober 1946-30 Oktober 2010"

Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah satoe hari jang mengandoeng sedjarah bagi tanah air kita.

Rakjat kita menghadap penghidoepan baroe.

Besok moelai beredar Oeang Repoeblik Indonesia sebagai satoe-satoenya alat pembajaran jang sjah.

Moelai poekul 12 tengah malam nanti, oeang Jepang jang selama ini beredar sebagai oeang jang sjah, tidak lakoe lagi.

"Beserta dengan oeang Jepang ikoet pula tidak berlaku Oeang De Javasche Bank.

Dengan ini toetoeplah masa dalam sejarah keoeangan Repoeblik Indonesia.

Masa yang penoeh dengan penderitaan dan kesoekaran bagi rakjat kita.

Sejak moelai besok, kita akan berbelandja dengan oeang kita sendiri, oeang yang dikeloearkan oleh Repoeblik kita.

Oeang Repoeblik keloear dengan membawa peroebahan nasib rakjat, istimewa pegawai negeri, jang sekian lama menderita karena inflasi oeang Jepang roepiah repoeblik jang harganja di Jawa lima poeloeh kali harga roepiah Jepang. Di soematra seratoes kali, menimboelkan sekaligoes tenaga pembeli kepada rakjat yang bergaji tetap jang selama ini hidoep daripada menjoeal pakaian dan perabot roemah, dan joega kepada rakjat jang menghasilkan, yang penghargaan toekar penghasilannja djadi tambah besar."

ya itulah cuplikan pidato Wakil Presiden Muhammad Hatta melalui RRI Yogyakarta pukul 00.00, pidato itulah yang menjadi titik awal beredarnya mata uang asli Indonesia.

Napak tilas: Dibalik terbitnya ORI

Sjafruddin Prawiranegara, memiliki sebuah keinginan yang telah dirintis jauh sebelum momentum bersejarah Proklamasi 17-8-45. Sjafrudin adalah salah satu tokoh di balik terbitnya ORI, sang simbol kedaulatan Republik.
Sebagai tokoh Komite Nasional Indonesia daerah Priangan, ia menampung usulan dari hasil pertemuan tokoh-tokoh Priangan untuk mengeluarkan mata uang pengganti uang Jepang. Usulan daerah ini kemudian dibawanya ke Jakarta dan menghadap Bung Hatta.

Setelah melalui perdebatan, akhirnya dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, Sjahrir dapat menyaksikan kelahiran bersejarah ORI, sekaligus terpilih menjadi orang yang membawakan amanat kemerdekaan dalam pidatonya di RRI 29 Oktober 1946 berkaitan dengan pidato legendaris Bung Hatta.

Upaya pencetakan ORI ini ditangani oleh RAS Winanrno dan Joenet Ramli. Percetakan ORI mulai dilakukan sejak bulan Januari yang sempat dihentikan pada bulan Mei 1946. Pencetakan dipindahkan dan dilanjutkan tersebar di daerah pedalaman seperti Jogja, Surabakarta, Malang, dan Ponorogo dengan memanfaatkan berbagai percetakan swasta.

Pembuatan design dan bahan-bahan berupa negatif kaca dilakukan di percetakan Balai Pustaka Jakarta dan ditangani Bunyamin Surjoharjo. Pelukis pertama ORI adalah Abdulsalam dan Soerono. Proses cetak offset dilakukan di percetakan RI Salemba Jakarta (di bawah Kementrian Penerangan). Produksi ORI ditangani oleh RAS Winarno dan Joenet Ramli. Pencetakan dilakukan tiap hari dari pukul 07.00 sampai dengan 22.00 sejak bulan Januari 1946.

Akhirnya, usaha yang tidak kenal lelah untuk menerbitkan uang sendiri memperlihatkan hasilnya dengan diterbitkannya EMISI PERTAMA uang kertas ORI pada tanggal 30 Oktober 1946.

Emisi I ORI terdiri pecahan bernilai 1, 5, 10 dan 50 sen. Kemudian disusul pecahan 1, 5, 10, 100 rupiah, semuanya ditandatangani Menteri Keuangan RI, karena pencetakan ORI tersebut selain mengandung maksud untuk mematahkan dominasi uang NICA, juga untuk membesarkan hati bangsa yang baru merdeka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar